Sabtu, 07 Juni 2014

KAJIAN ISLAM

PERINGATAN ISRA’ WAL MI’RAJ- MBM/Mrn

Isra' adalah perjalanan malam Nabi Muhammad dari Makkah menuju Baitul Maqdis di Palestina. Sedang mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsa) ke langit ketujuh.

Isra' dan Mi'raj dalam aqidah Islam merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada pertengahan masa kerasulan Nabi antara tahun ke-11 sampai tahun ke-12 hijrah sejak Nabi mengumumkan bahwa Allah telah mengutus malaikat Jibril untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai Rasul dan risalah keagamaan yang harus disampaikan kepada kabilah Quraish secara khusus dan kepada manusia seluruhnya secara umum. Dan bahwa kerasulan Muhammad adalah sebagai penyempurna dan terakhir bagi risalah samawi Rasul-rasul terdahulu.

PENGERTIAN ISRA' DAN MI'RAJ

Isra' adalah perjalanan malam Nabi Muhammad dari Makkah menuju Baitul Maqdis (Al-Aqsa) di Palestina. Sedang mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) ke langit atau sidratul muntaha.

Peristiwa Isra' dan Mi'raj adalah salah satu mukjizat Nabi Muhammad. Dan karena itu ulama sepakat bahwa bahwa Nabi melakukannya dengan
 ruh dan jasadnya.

WAKTU TERJADINYA PERISTIWA ISRA' DAN MI'RAJ

Terjadi perbedaan ulama tentang kapan hari, bulan dan tahun terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj itu terjadi. Berikut beberapa pendapat tentang waktu peristiwa Isra' Mikraj:

1. Malam Senin, tanggal 12 bulan Rabiul Awal (tanpa tahun).
2. Bulan Rabiul Awwal, setahun sebelum hijrah yakni saat Nabi berada di Makkah.
3. Bulan Dzul Qa'dah 16 bulan sebelum hijrah.
4. 3 (tiga) tahun sebelum hijrah.
5. 5 (lima) tahun sebelum hijrah.
6. 6 (enam) tahun sebelum hijrah.
7. 27 Rajab

Umumnya ulama sepakat bahwa Isra' itu terjadi satu kali di Makkah yakni setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul dan sebelum hijrah ke Madinah.

DALIL ISRA' MI'RAJ

QS Al-Isra' 17:1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Hadits sahih riwayat Bukhari yang dikenal dengan hadits Mi'raj dan teksnya cukup panjang menceritakan secara detail tentang peristiwa mi'raj-nya Nabi dari Masjid Al-Aqsa ke langit. Baca hadits-nya 
di sini.

ISRA' MI'RAJ NABI SECARA FISIK ATAU RUH SAJA?

Perbedaan pun terjadi tentang apakah Isra' Mi'raj-nya Nabi terjadi dengan ruh dan badan atau hanya ruh saja.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra' Mi'raj Nabi terjadi dengan jiwa dan raga dan dalam keadaan bangun (tidak tidur). Dan karena itulah banyak kaum kafir Quraish yang tidak percaya akan peristiwa ini. Dan banyak kaum kafir saat ini yang juga tidak percaya. Itulah mukjizat yang memang bertujuan untuk menguji kekuatan iman seseorang.

Yang utama yang berpendeapat demikian adalah kalangan ahli tafsir utama seperti At-Tabari, Ibnul Arabi, Ibnu Katsir, Al-Baghawi, Al-Baidhawi, Al-Qurtubi.

Asy-Syaukani dalam kitab Fathul Qadir mengatakan:
والذي دلت عليه الأحاديث الصحيحة الكثيرة هو ما ذهب إليه معظم السلف والخلف من أن الإسراء بجسده وروحه يقظة

Artinya: Adapun yang ditunjukkan oleh sejumlah hadits sahih itulah pendapat yang diambil oleh mayoritas ulama salaf dan khalaf bahwa Isra'-nya Nabi Muhammad itu dengan jasad dan ruhnya serta dalam keadaan tidak tidur (bukan dalam mimpi).

Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi menyatakan
ثبت الإسراء في جميع مصنفات الحديث، وروي عن الصحابة في كل أقطار الإسلام فهو من المتواتر بهذا الوجه,


Artinya: Masalah Isra' Mi'raj ini sudah jelas disebut secara eksplisit dalam kitab-kitab hadits yang diriwayatkan oleh para Sahabat. Semua sepakat (mutawatir) bahwa kejadian tersebut dengan badan dan roh Nabi.
HUKUM PERINGATAN ISRA MI'RAJ

Tidak ada dalil dari Quran maupun hadits yang menyatakan bahwa Isra' Mi'raj sebagai salah satu hari besar yang patut diperingati. Juga tidak ada contoh dari Nabi bahwa beliau pernah memperingati atau merayakan Isra' Mir'raj. Berangkat dari fakta ini maka terdapat perbedaan (ikhtilaf) ulama tentang boleh dan tidaknya umat Islam memperingati Isra' Mi'raj. Perbedaan itu seperti biasa terjadi antara ulama Ahlussunnah Waljamaah dan kelompok Salafi Wahabi (Sawah).


PENDAPAT ULAMA YANG MENGHARAMKAN DAM MEMBOLEHKAN PERINGATAN ISRA' MI'RAJ

Dalil Quran

Ulama Wahabi menganggap peringatan Isra' Mi'raj adalah bid'ah dan haram dilakukan oleh umat Islam karena dianggap mengada-ngada sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi atau tidak berdasar pada dalil Quran dan Sunnah.

Muhammad bin Ibrahim Alus-Syaikh, mufti Kerajaan Arab Saudi, menyatakan: Peringatan Isra' Mikraj tidak disyariatkan oleh agama dengan dalil dari Al-Quran, hadits, istis-hab dan logika.

Ia menambahkan, dalil dari Quran jelas disebut dalam QS Al-Maidah 5:3 "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ";

QS An-Nisa 4:59 "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.";

QS Ali Imran 3:31 "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ";

QS An-Nur :63 "maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."

Dalil Hadits
Ada dua hadits yang dipakai dalil oleh kalangan Wahabi, yang paling populer adalah hadits bid'ah riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang mengada-ngada dalam perkara yang tidak berasal dariku maka tertolak. Dalam riwayat Muslim dengan kalimat: Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan dariku maka ia tertolak" (Teks Arab: atau
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد atau من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد).

Hadits kedua riwayat Tirmidzi dan dinilai sahih olehnya, juga Ibnu Majah, Ibnu Hibban Rasulullah bersabda: Takutlah mengada-ngada dalam sesuatu. Karena setiap sesuatu yang baru adalah sesat (Teks Arab:
إياكم ومحدثات الأمور, فإن كل محدثة ضلالة).

Dalil Istis-hab

Bahwa peringatan Isra' Mi'raj dianggap sebagai ibadah. Sedangkan ibadah bersifat tawqifiyah (tuntunan langsung dari Allah dan Rasul-Nya). Tanpa itu maka dianggap haram. Karena hukum asal dari ibadah adalah haram sampai ada dalil yang menyatakan sebaliknya (Teks Arab dari kaidah ini adalah:
لإصل في العبادة ا لتحريم حتي يدل الدليل علي تحليله)

Pendapat ulama Salafi Wahabi yang lain seperti Abdullah bin Baz dan, Ibn Uthaimin, dll, kurang lebih sama.

Tinjauan kritis atas pendapat Ulama Wahabi:

Walaupun dalil Al-Quran dan hadits yang dibuat dasar tidak salah, namun dalil-dalil tersebut tidak relevan dengan topik yang dibahas yakni peringatan Isra' Mikraj. Tidak ada satupun dalil yang dipakai menyebutkan atas haramnya memperingati Isra' Mi'raj. Dengan kata lain, dalil-dalil tersebut adalah dalil-dalil umum yang oleh ulama Wahabi dipakai dan dipaksakan untuk kasus peringatan Isra' Mi'raj.

Adapun logika istis-hab dimana Wahabi menganggap bahwa masalah Isra' dan Mi'raj adalah masalah ibadah tidaklah tepat. Karena masalah ibadah dalam Islam itu sudah jelas seperti shalat, haji, umrah dan puasa. Peringatan Isra' dan Mi'raj tidak beda dengan acara pertemuan biasa atau rapat umum yang lalu diisi dengan ceramah atau taushiah. Jadi, dimana letak ibadahnya?

Peringatan Isra' Mi'raj lebih tepat disebut sebagai masalah muamalah atau masalah non-ibadah yang menurut kaidah fiqih hukum asalnya adalah halal dan boleh sampai ada dalil yang menunjukkan atas keharamannya (Teks Arab:
الإصل في الأشياء الإباحة حتي يدل الدليل علي تحريمه)

Kesimpulan

Peringatan Isra' Mi'raj menurut ulama Ahlussunnah Waljamaah adalah boleh walaupun tidak ada pada zaman Nabi dan Sahabat karena ia merupakan masalah muamalah atau non-ibadah sebagaimana peringatan Maulid Nabi. Dan hukum asal dari masalah muamalah atau non-ibadah adalah boleh. Sedangkan menurut ulama Salafi Wahabi (Sawah) hukumnya haram karena dianggap masalah ibadah dan hukum asal dari masalah ibadah adalah haram.


makkah dan madinah

Jakarta - Kota suci Umat Islam pertama adalah Kota Makkah. Dijelaskan lebih lanjut dalam Alquran maupun sunah tentang keistimewaannya, di antara keutamaan dan keistimewaan kota Makkah adalah sebagai berikut: 

1. Kota Makkah dan Madinah adalah Dua Kota yang Tidak Akan Dimasuki Dajjal. 

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits: “Tidak ada satu negeri pun yang akan dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Dia tidak mendapati celah/jalan masuk, kecuali padanya ada malaikat yang berbaris menjaganya.”(HR Bukhari)

2. Amal Baik dan Buruk Dilipat-gandakan di Kota Makkah

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. al-Hajj [22]: 25).

3. Rumah Pertama yang Dibangun di Bumi

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali-Imran [3]: 96).

Wahai Rasulullah, masjid apakah yang paling pertama kali dibangun di bumi?” Beliau menjawab, ”Al-Masjid al-Haram.” Saya bertanya lagi, ”Kemudian apa?” beliau menjawab, ”Al-Masjid al-Aqsha.” Saya bertanya, ”Berapa lama selang waktu di antara keduanya?” beliau menjawab, ”40 tahun. Dimana saja shalat menjumpai kamu maka shalatlah karena itu adalah masjid.” (HR Bukhari) 

4. Shalat di Masjidil Haram Lebih Utama 100 Ribu Kali

“Shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali shalat yang dilakukan di masjid-masjid lainnya.” (HR Ibnu Majah)


5. Tempat yang Lebih Utama Dikunjungi

“Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, Masjid al-Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi).” (HR Bukhari)

Hadits Nabi di atas, menyatakan keutamaan dan nilai lebih ketiga masjid tersebut daripada masjid yang lain. Hal tersebut dikarenakan, ketiganya merupakan masjid para nabi ‘alaihimus salam. Masjidil Haram merupakan kiblat kaum muslimin dan tujuan berhaji, sedangkan Masjidil Aqsha adalah kiblat kaum terdahulu, adapun Masjid Nabawi merupakan masjid yang terbangun di atas pondasi ketakwaan (QS al-Fath: 3/64). 

Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk melakukan safar menuju ketiga tempat tersebut dan mereka dilarang untuk melakukan safar ke tempat lain dalam rangka melakukan peribadatan, meskipun tempat itu adalah masjid.


6. Kota yang Disumpahi Allah Swt

“Demi buah tin dan zaitun dan demi bukit Sinai dan demi kota (Makkah) ini yang aman.” (QS at-Tin [95]: 1-2).


7. Kota yang Menjadi Saksi Dimulainya Peristiwa Isra’ Mi’raj

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al- Isra [17]: 1). 


8. Pernyataan Rasulullah dalam sebuah Hadits tentang Kekhususan kota Makkah

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah Swt, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa keluar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” (HR At Tirmidzi).


9. Kota yang Didoakan Nabi Ibrahim As, Seperti Termaktub dalam Alquran dan Al-Hadits 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah –mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 35-37).

Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya Ibrahim meng-Haram-kan kota Makkah dan mendoakan untuk penghuninya. Dan aku mengHarāmkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim meng-Haram-kan kota Makkah, dan aku mendoakan untuk sha’ dan mud-nya seperti yang didoakan Ibrahim untuk penghuni Makkah.” (HR Muslim) 


10. Kota yang Damai, Dilarang Berperang dan Membawa Masuk Senjata ke Kota Makkah

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Harām, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Rasulullah Saw menjelaskan dilarang membawa senjata ke kota Makkah, seperti sabdanya: “Tidak halal bagi kalian untuk mengangkat senjata di Makkah.” (HR Muslim).


11. Kota yang Dilindungi Allah dari Kerusakan dan Kepunahan Populasinya

Sebagaimana disabdakan Rasulullah tentang Harāmnya berburu saat berihram:

“Sesungguhnya tanah ini telah di-Haram-kan oleh Allah, maka tidak boleh ditebang tumbuhannya, tidak boleh diburu hewan buruannya, dan tidak boleh dipungut satupun barang yang hilang padanya, kecuali orang yang mencari pemiliknya.” (HR Bukhari).

Ketika Allah menundukkan kota Makkah untuk Rasulullah Saw, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Makkah dari pasukan gajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorang pun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang mengumumkannya; dan barangsiapa terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishash).” Lalu Abbas berkata:kecuali tumbuhan idkhir, wahai Rasulullah. Sebab kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda: “Kecuali tumbuhan idkhir. (HR Bukhari).


12. Bumi Allah yang Paling Allah Sayangi

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah Swt, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan kerana dipaksa keluar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” ( HR At Tirmidzi) 



*)Disarikan dari Ensiklopedia Peradaban, diterbitkan Tazkia Publishing.


Inilah Keutamaan Kota Madinah, Semoga Kita Bisa Mengunjunginya

Oleh: Ust. Firman Firdaus
Begitu banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dengan nilai-nilai keimanan tinggi terkumpul di Madinah. Keutamaan dan kemuliaan kota Madinah menghiasi pendengaran dan penglihatan.
Allah 'Azza wa Jalla menjadikan kota Madinah sebaik-baik tempat setelah Makkah Al Mukarramah. Tempat diturunkannya wahyu dan tempat bertemunya antara Muhajirin dan Anshor, dan di dalamnya ditegakkan bendera jihad fi sabilillah dan tersebarnya Al Islam keseluruh penjuru alam. Banyak hadist Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan sisi-sisi keutamaan kota Madinah. Diantaranya adalah:
1. Madinah Sebagai Kota Suci
Madinah oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dijadikan sebagai kota suci. Di sinilah Islam tumbuh, berkembang, dan menyebar luas, sehingga semesta yang pada waktu itu tertutup oleh kegelapan jahiliyah menjadi terang benderang oleh cahaya Islam.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin `Ashim Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
"Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,  
إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ. وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةَ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا. لاَ يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلاَ  يُصَادُ صَيْدُها
"Sesungguhnya Ibrahim menjadikan Makkah Tanah Suci dan aku menjadikan Madinah Tanah Suci di antara tepinya. Tidak boleh ditebang kayu berdurinya dan tidak boleh diburu binatang buruannya." (HR. Al-Bukhari)
Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan batasan-batasan tanah haram di Madinah. Wilayah haram membentang dari Gunung Tsaur (yang merupakan perbatasan sebelah utara) hingga Gunung I'er (yang merupakan perbatasan sebelah selatan). Dan dari Harroh Waqim (yang merupakan perbatasan sebelah timur) hingga Harroh Wabroh (yang merupakan perbatasan sebelah barat).
2. Jaminan Syafaat Bagi Orang yang Menanggung Kesusahan di Madinah dan Meninggal di Dalamnya
Ini merupakan sebuah kehormatan bagi penduduk Madinah atau yang menziarahinya apabila meninggal di dalamnya. Rasullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan umatnya agar menutup usia di Kota tersebut. Beliau bersabda,
Siapa yang mampu menutup usia di Madinah, maka hendaklah dia meninggal di sana, karena aku memberi Safa`at pada orang yang meninggal di sana.”( HR. Tirmizi dan Ahmad)
Diriwayatkan dari Sa'id bin Abu Sa'id dari Abu Sa'id maula Al-Mahri, dia datang kepada Abu Sa'id Al Khudri Radhiyallahu 'Anhu di malam peristiwa Al-Harrah meminta nasehatnya untuk keluar dari Madinah, seraya mengeluhkan harga barang-barang yang tinggi dan ia mempunyai banyak tanggungan. Dia menyampaikan, sudah tidak mampu lagi menanggung cobaan dan kesulitan hidup Madinah. Lalu Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu menjawab, “Celakalah engkau! Aku tidak merestuimu untuk melakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا
"Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madinah), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya lalu meninggal di sana, melainkan aku akan memberi Safa'at dan menjadi saksinya pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”(HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Siapa bersabar dengan  kesukaran di Madinah, maka aku akan memberi syafa'at atau menjadi saksi untuknya pada hari Kiamat." (HR. Muslim)
Dalam sabdanya yang lain,
مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا
Siapa di antara kalian yang bisa meninggal di Madinah, hendaklah dia berusaha ke arah itu. Karena sesungguhnya Aku menjadi saksi bagi siapa yang meninggal di sana." (HR. Muslim dari Ibnu Umar)
Amirul Mukminin, Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu pernah berkeinginan meninggal di kota Madinah, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Ya Allah, karuniakanlah aku syahid di jalan-Mu dan jadikan kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu 'Alaihi Wasallam (Madinah)." (HR. Bukhari)
3. Tempat Kembalinya Keimanan
Tidak diragukan lagi, Madinah adalah ibukota pertama umat Islam dan darinya tersebar Islam keseluruh penjuru alam. Dan setiap muslim menyimpan rasa rindu untuk menziarahinya dan karena kecintaannya kepada Rasulullah Shalallahu A'laihi Wasallam.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah seperti kembalinya seekor ular ke dalam lubangnya.”( HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bebas dari Thaun dan Dajjal
Salah satu keutamaan kota Madinah lainnya adalah ia dijaga oleh para Malaikat sehingga tha’un—yaitu wabah penyakit menular yang bisa memusnahkan semua penduduk suatu negeri— dan Dajjal tidak bisa memasukinya. Banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan tentangnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Di pintu-pintu masuk Madinah terdapat para malaikat sehingga wabah tha’un dan Dajjal tidak bisa memasukinya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:  “Tidaklah setiap negri melainkan Dajjal akan menginjakkan kakinya di sana kecuali Makkah dan Madinah. Dan tidaklah setiap pintu masuk kota tersebut melainkan ada para malaikat yang berbaris menjaganya. Lalu Dajjal singgah di Sapha, kemudian Madinah berguncang tiga kali dan melemparkan setiap orang kafir dan munafik dari dalamnya menuju ke tempat Dajjal." (HR. Bukhari  dan Muslim, redaksinya berasal dari Muslim)
5. Madinah Adalah Tempat Yang Penuh Barakah Dan Kebaikan
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda tentang kota Madinah,
إِنَّهَا طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ وَإِنَّهَا تَنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْفِضَّةِ
"Ia Thaibah, yaiut Madinah. Ia menghilangkan segala keburukan sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada perak." (HR. Muslim)
Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata, "Kami tiba di Madinah ketika kota tersebut dilanda wabah penyakit sehingga Abu Bakar dan Bilal mengeluhkan keadaan itu. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyaksikan keluhan para sahabatnya, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ
" Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkatilah untuk kami dalam setiap sha` serta mudnya (sukatan) dan alihkanlah wabah penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah." (HR. Muslim)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
"Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
6. Memiliki Beberapa Nama yang Mulia
Madinah memiliki nama banyak yang menunjukkan akan kedudukannya yang tinggi. Tetapi hanya ada enam nama yang tersebutkan dalam hadits-hadits shahih, yaitu:
a. Yatsrib, ini adalah nama Madinah di zaman jahiliah. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggantinya karena maknanya yang buruk dan melarang menggunakan nama ini setelah Islam.
b. Al-Madinah, merupakan nama yang terkenal setelah hijrah. Telah datang banyak penyebutannya dalam Al Quran dan As Sunnah shahihah.
c. Thobah & Thoibah, kedua nama ini diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
d. Ad Daar wal Iman,  datang penyebutan kedua nama ini dalam Al-Quran Al-Karim pada firman Allah 'Azza wa Jalla,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ
Dan orang-orang yang telah menempati kota Ad Daar wal Iman(yaitu kota Madinah) sebelum mereka." (QS. 59:9)
Masih banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan keutamaan kota Madinah. Semoga ada niat besar dalam diri kita untuk menziarahinya, karena Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ ، وَمَسْجِدِي هَذَا ، وَالْمَسْجِدُ الْأَقْصَى
"Janganlah memaksakan bersafar (ke tempat tertentu karena keutamaan tempat tersebut) kecuali untuk pergi ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha." (Muttafaq 'Alaih). Wallahu a’lam bishowaab. Semoga bermanfaat. [PurWD/voa-islam.com]
* Penulis adalah Mahasiswa di Jami'ah Islamiyah Madinah.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2011/10/27/16497/inilah-keutamaan-kota-madinah-semoga-kita-bisa-mengunjunginya/#sthash.sOBmGALR.dpuf


40 Hadis, Keutamaan Makkah

40 Hadits
TENTANG KEUTAMAAN
 MAKKAH
Disusun oleh :
Doktor Tholal bin Muhammad Abun Nur
Dosen di Universitas Ummul Qura
Alih Bahasa : Abu Hasan Arif
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, dan juga kepada keluarga, serta seluruh para sahabat beliau.
Sungguh hikmah Allah menetapkan bahwa umat manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam keutamaan, dan jenis-jenisnya. Demikian pula waktu dan tempat memiliki perbedaan dalam keutamaannya. Dan Allah telah menetapkan sunnah-sunnah dan hukum-hukumnya atas yang demikian itu.
Diantara tempat/negeri yang memiliki keutamaan dan keagungan adalah : Ummul Qura “Makkah al-Mukarramah”, di tempat ini terdapat Ka’bah, rumah yang dibangun untuk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, Ka’bah adalah kiblat kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Sesungguhnya negeri Makkah adalah tempat turunnya wahyu Allah, dan risalah (agama Islam), tidak ada seoranpun dari kalangan muslimin yang mengingkari keutamaan negeri Makkah.
http://makalahku.files.wordpress.com/2011/05/makka.jpg?w=300&h=215
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu alaihiwasallam menyebutkan berbagai keistimewaan dan keutamaan negeri Makkah.
Bersamaan dengan proyek/usaha dalam mengagungkan negeri Makkah yang dicanangkan oleh“Jamiyyah Marakizil Ahya” di Makkah al-Mukarramah, dikumpulkanlah 40 hadits-hadits Nabi shallahu alaihiwasallam  berkaitan dengan keutamaan negeri Makkah yang diberkahi ini, serta hadits-hadits yang menjelaskan hukum-hukum khusus negeri ini sebagaiupaya mengagungkan negeri Makkah, dan juga sebagai pendorong kuat bagi orang-orang shalih dari individu-individu umat Islam khususnya penduduk Makkah untuk menjaga kesucian negeri yang diberkahi ini, serta sebagai peringatan terhadap mereka yang tidak memperhatikan keharaman dan keamanan negeri Makkah.
Saya memohon kepada Allah agar menjadikan karya ini bermanfaat bagiku di akhirat saat aku bertemu dengan Allah, dan semoga Allah mengumpulkanku bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihiwasallam.
Penulis :
Doktor Tholal bin Muhammad Abun Nur
Pembimbing dalam proyek pengagungan negeri Makkah
Di “Jamiyyah Marakizil Ahya” di Makkah al-Mukarramah
Hadits ke 1 :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي اْلأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ ). قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ( الْمَسْجِدُ الأَقْصَى ). قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : ( أَرْبَعُونَ سَنَةً،  ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ، فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ ).
أخرجه البخاري
Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu, berkata : saya bertanya : “Wahai Rasulullah masjid mana yang pertama kali dibangun ?” Beliau menjawab : “Masjidil Haram”. Saya bertanya lagi : “Lalu setelah itu ?” Beliau menjawab : “Masjidil Aqsa”. Saya tanyakan lagi : “Berapa lama antara keduanya ?” Beliaupun menjawab : “Empat puluh tahun, dan dimana saja kalian mendapati waktu shalat, shalatlah ditempat itu, karena ada keutamaannya dalam menunaikan shalat (jika telah tiba waktunya)[1]“.[2]

Hadits ke 2 :
 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِوَادِي الأَزْرَقِ ، فَقَالَ :  ( أَيُّ وَادٍ هَذَا؟). فَقَالُوا : وَادِي الأَزْرَقِ.
قَالَ : ( كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ هاَبِطًا مِنَ الثَّنِيَّةِ وَ لَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ).
ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى، فَقَالَ : ( أَيُّ ثَنِيَّةٍ هَذِهِ ؟ ) قَالُوا : ثَنِيَّةُ هَرْشَى.
قَالَ : ( كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى يُونُسَ بْنِ مَتَّى عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ، عَلَيْهِ جُبَّةُ صُوفٍ، خِطَامُ نَاقَتِهِ خُلْبَةٌ وَهُوَ يُلَبِّي).
أخرجه مسلم
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   melalui lembah “al-Arzaq”, lalu beliau bertanya : “lembah apa ini?”. Para sahabat menjawab :  lembah “al-Arzaq”. Beliau bersabda : “Seolah-olah aku melihat Musa alaihissalam turun dari tempat yang tinggi, ia mempunyai suara keras mengucapkan talbiyah kepada Allah. Lalu beliau melalui tsaniyyatul harsya.[3] Kemudian beliau r bertanya : “Lembah apa ini?” Tsaniyyatu Harsya, jawab para sahabat. Kemudian beliau bersabda : “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta alaihissalam duduk diatas unta kekar, mengenakan jubah yang terbuat dari wol, tali kendali untanya terbuat dari serabut, dan ia sedang mengucapkan kalimat talbiyah.[4]
Hadits ke 3 :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ ؛ مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى.
أخرجه البخاري  ومسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam   : “Tidak ada keutamaan[5] bepergian (kesuatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi tiga masjid, (yaitu) masjidku ini (masjid Nabawwi di Madinah), Majidil Haram (Makkah), dan Masjidil Aqsha (Palestina).” [6]
Hadits ke 4 :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قاَلَ :  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلاَةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ.
أخرجه أحمد  وابن ماجه  وصححه الألباني
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu , ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Shalat di masjidku ini lebih utama[7] seribu shalat dari shalat di masjid selainnya[8], kecuali masjidil haram, dan shalat di masjidil haram lebih utama seratus ribu kali dari shalat di masjid selainnya.”[9]
Hadits ke 5 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَّةَ : مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ.
أخرجه الترمذي وحسنه، وابن حبان في صحيحه، والحاكم في المستدرك وصححه
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda kepada negeri Makkah : “Alangkah baiknya engkau dari negeri yang ada, dan engkau adalah negeri yang paling aku cintai, kalau bukan lantaran kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di negeri selainmu[10].”[11]
Hadits ke 6 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِّيِّ بْنِ حَمْرَاءَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا عَلَى الْحَزْوَرَةِ، فَقَالَ : وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلاَ أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ.
أخرجه الترمذي وصححه،  والنسائي في الكبرى، وابن ماجه، والحاكم في المستدرك وصححه
Dari Abdullah bin Adi bin Hamra radhiyallahuanhu , ia berkata : saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   berdiri di Hazwarah (salah satu daerah di Makkah), lalu beliau bersabda : demi Allah, sesungguhnya engkau sebaik-baik bumi Allah, dan negeri Allah yang paling dicintai Allah, kalau bukan lantaran aku dikeluarkan darimu[12], niscaya aku tidak keluar.”[13]
Hadits ke 7 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا،  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ ؛ مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ.
أخرجه البخاري
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga ; seorang yang melakukan kemaksiatan/dosa-dosa besar[14] yang tinggal di Makkah, seorang yang menginginkan ajaran jahiliyah dalam agama Islam, dan seorang yang sangat berkeinginan membunuh (orang lain) tanpa dasar yang benar (dari agama) agar dapat menumpahkan darahnya.”[15]
Hadits ke 8 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ  افْتَتَحَ مَكَّةَ : لاَ هِجْرَةَ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا، فَإِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّهُ لَمْ يَحِلَّ الْقِتَالُ فِيهِ لأَحَدٍ قَبْلِي، وَلَمْ يَحِلَّ لِي إِلاَّ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لاَ يُعْضَدُ شَوْكُهُ، وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهُ، وَلاَ يُلْتَقَطُ لُقَطَتُهُ، إِلاَّ مَنْ عَرَّفَهَا، وَلاَ يُخْتَلَى خَلاَهَا). قَالَ الْعَبَّاسُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِلاَّ الإِذْخِرَ، فَإِنَّهُ لِقَيْنِهِمْ وَلِبُيُوتِهِمْ. قَالَ : ( إِلاَّ الإِذْخِرَ ).
أخرجه البخاري  ومسلم
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma ia berkata : Nabi shallallahu alaihi wasallam    bersabda di hari penaklukkan kota Makkah : “Tidak ada hijrah lagi[16], akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat[17], jika kalian diperintah (ulil amri) pergi berjihad maka berangkatlah, sesungguhnya negeri ini Allah telah mengharamkannya pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, maka sejak itu haram dengan keharaman Allah hingga hari kiamat, sesungguhnya tidak diperbolehkan berperang di dalamnya kepada seorangpun sebelumku, dan juga tidak dihalalkan bagiku kecuali sesaat di siang hari[18], maka sejak itu (negeri Makkah) haram dengan keharaman Allah hingga hari kiamat, duri-durinya tidak boleh dipatahkan, binatang buruannya tidak boleh di usir (diganggu), barang yang jatuh di Makkah tidak boleh diambil, kecuali untuk mencari (pemiliknya)[19], tumbuh-tumbuhannya tidak boleh ditebang”.
Ibnu Abbas bertanya : Wahai Rasulullah, kecuali tumbuhan al-idhir (sejenis tumbuhan-tumbuhan yang harum baunya)? Sesungguhnya tumbuhan itu digunakan oleh tukang besi atau tukang emas/perak mereka, dan digunakan untuk rumah-rumah mereka?
Beliau bersabda : “Kecuali al-idhir”.[20]
Hadits ke 9 :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قاَلَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لاَ يَحِلُّ لأَحَدِكُمْ أَنْ يَحْمِلَ بِمَكَّةَ السِّلاَحَ.
أخرجه مسلم
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu, ia berkata : saya mendengar Rasulullahshallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Tidak diperbolehkan bagi kalian membawa senjata[21] di Makkah”.[22]
Hadits ke 10 :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّيْنَ يَحْرُسُونَهَا، ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، فَيُخْرِجُ اللَّهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ.
أخرجه البخاري ومسلم
Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu, dari Nabi shallallahu alaihiwasallam, beliau bersabda : “Tidak ada satu negeripun melainkan akan di singgahi oleh Dajjal kecuali Makkah dan Madinah, tidak ada satupun pintu masuknya[23] melainkan ada Malaikat yang berbaris menjaganya, lalu terjadilah gempa di Madinah tiga kali menggoncangkan penduduknya, kemudian Allah mengeluarkan setiap orang yang kafir dan munafik (darinya)”.[24]
Hadits ke 11 :
عَنِ الْحَارِثِ بْنِ مَالِكِ بْنِ الْبَرْصَاءِ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ يَقُولُ :  لاَ تُغْزَى هَذِهِ بَعْدَ الْيَوْمِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أخرجه الترمذي  والإمام أحمد ، وصححه الألباني
Dari al-Harits bin Malik bin al-Barsha-i, ia berkata : saya mendengar Rasulullahshallahualaihiwasallam  pada hari penaklukkan kota Makkah bersabda : “Negeri Makkah ini tidak akan diserang sesudah hari ini[25] hingga hari kiamat”.[26]
Hadits ke 12 :
عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ وَمَرْوَانَ، قَالاَ : خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ حَتَّى إِذَا كَانُوا بِبَعْضِ الطَّرِيقِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ بِالْغَمِيمِ فِي خَيْلٍ لِقُرَيْشٍ طَلِيعَةٌ فَخُذُوا ذَاتَ الْيَمِينِ ).
 فَوَاللَّهِ مَا شَعَرَ بِهِمْ خَالِدٌ ؛ حَتَّى إِذَا هُمْ بِقَتَرَةِ الْجَيْشِ، فَانْطَلَقَ يَرْكُضُ نَذِيرًا لِقُرَيْشٍ، وَسَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا كَانَ بِالثَّنِيَّةِ الَّتِي يُهْبَطُ عَلَيْهِمْ مِنْهَا بَرَكَتْ بِهِ رَاحِلَتُه.
فَقَالَ النَّاسُ : حَلْ حَلْ. فَأَلَحَّتْ، فَقَالُوا : خَلأَتِ الْقَصْوَاءُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا خَلأَتِ الْقَصْوَاءُ وَمَا ذَاكَ لَهَا بِخُلُقٍ، وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ.
ثُمَّ قَالَ : ( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا). ثُمَّ زَجَرَهَا فَوَثَبَتْ…الحديث.
أخرجه البخاري
Dari al-Miswari bin Makhramah dan Marwan, keduanya berkata : Rasulullahshallallahu alaihi wasallam   keluar di saat perjanjian al-Hudaibiyyah[27] hingga tatkala kaum muslimin sampai di sebuah jalan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam    bersabda : “Sesungguhnya Khalid bin Walid berada di al-Ghamim[28] bersama pasukan pengintainya, maka ambillah jalan ke kanan.”
Demi Allah, Khalid bin Walid tidak mengetahui posisi kaum muslimin, hingga ia dikejutkan dengan debu-debu hitam pasukan kaum muslimin, ia pun lari kembali (ke Makkah) memperingatkan kaum Quraisy, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam   meneruskan perjalanan hingga beliau tiba di ats-Tsaniyyah[29]tempat beliau turun, kendaraan beliau menderum/berhenti. Lalu para sahabat mengucapkan ucapan supaya kendaraan beliau berjalan :  Qal, Qal[30], namun unta itu tetap berhenti. Kemudian mereka berujar : al-Qaswa [31] tidak mau melanjutkan perjalanan. Lalu Nabi shallallahu alaihiwasallam bersabda : “Bukannya tidak mau melanjutkan perjalanan, bukan kebiasaan unta ini (tidak mau berjalan), akan tetapi Allah menahannya memasuki kota Makkah, sebagaimana tentara bergajah tertahan memasuki kota Makkah[32]“.
Kemudian beliau shallallahu alaihiwasallam melanjutkan ucapannya : “Demi Allah, yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah Quraisy meminta kepadaku agar aku mengagungkan hurumatillah[33]  pasti akan aku penuhi”. Lalu beliau menghardik unta itu dan berdirilah binatang itu.[34]
Hadits ke 13 :
عَنْ عَيَّاشِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ، قَالَ : سمعت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول  : لاَ تَزَالُ هَذِهِ الأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوْهَا وَضَيَّعُوْهَا هَلَكُوا.
أخرجه الإمام أحمد وابن ماجه، وحسنه الحافظ ابن حجر
Dari Ayyas bin Abi Rabi’ah, ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam    bersabda : “Senantiasa umat ini akan baik selama mereka mengagungkan sebenar-benar pengagungan terhadap keharaman[35] (negeri Makkah ini), jika mereka meninggalkan (pengagungan) dan menyia-nyiakannya pasti mereka binasa”.[36]
Hadits ke 14 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لأَهْلِهَا، وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ، وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لأَهْلِ مَكَّةَ. أخرجه مسلم
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam    bersabda : “Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan kota Makkah[37] dan mendoakan kebaikan penduduknya, sedangkan aku mengharamkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim mengharamkan kota Makkah, dan aku mendoakan kebaikan pada timbangan/takarannya seperti doa kebaikan Ibrahim bagi penduduk Makkah”.[38]
Hadits ke 15 :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِسْتَمْتَعُوْا بِهَذَا الْبَيْتَ فَقَدْ هُدِمَ مَرَّتَيْنِ، وَيُرْفَعُ فِي الثَّالِثَةِ).
أخرجه البزار وابن خزيمة وابن حبان، وصححه الألباني
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuanhuma, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam    bersabda : “Nikmatilah[39] rumah Allah ini (Ka’bah), sungguh Ka’bah ini pernah dihancurkan dua kali[40], dan pada kali ketiganya di angkat[41]“.[42]
Hadits ke 16 :
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلاَ يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلاَ يُوَلِّهَا ظَهْرَهُ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّّبُوا.
أخرجه البخاري ومسلم
Dari Abi Ayyub al-Anshari radhiyallahuanhu , ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam    bersabda : “Jika kalian  buang air di kamar mandi, janganlah menghadap ke-arah kiblat, jangan pula membelakanginya, namun hendaklah kalian menghadap ke-arah timur atau barat[43].”[44]
Hadits ke 17 :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، وَلَمْ يَسْتَدْبِرْهَا فِي الْغَائِطِ ؛ كُتِبَ لَهُ حَسَنَةٌ، وَمُحِيَ عَنْهُ سَيِّئَةٌ.
أخرجه الطبراني في الأوسط، وصححه الألباني
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Barangsiapa tidak menghadap ke-arah kiblat dan tidak pula membelakanginya di waktu buang air, dituliskan baginya kebaikan, dan kesalahannya dihapus”.[45]
Hadits ke 18 :
عن حذيفة بن اليمان، قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَفْلُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ.
أخرجه أبو داود وابن حبان، وصححه الألباني
Dari Hudzaifah bin al-Yaman, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda : “Barangsiapa meludah ke-arah Kiblat[46], maka pada hari kiamat ludahnya berada di antara kedua matanya.”[47]
Al-Imam Nawawi berpendapat larangan meludah ke-arah kiblat itu adalah di setiap keadaan, baik ketika shalat maupun di luar shalat, baik itu di masjid maupun di luarnya.
Hadits ke 19 :
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ : دَخَلْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْتَ، فَجَلَسَ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَكَبَّرَ وَهَلَّلَ، ثُمَّ ماَلَ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْبَيْتِ، فَوَضَعَ صَدْرَهُ عَلَيْهِ، وَخَدَّهُ وَيَدَيْهِ، ثُمَّ خَرَجَ فَأَقْبَلَ عَلىَ الْقِبْلَةِ وَهُوَ عَلَى الْبَابِ، فَقَالَ : هَذِهِ الْقِبْلَةُ، هَذِهِ الْقِبْلَةُ.
 أخرجه النسائي وصححه الألباني
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata : “Saya pernah bersama Rasulullah shallahu alaihi wasallam memasuki Ka’bah, lalu beliau duduk dan memuji serta menyanjung Allah, lalu bertakbir dan bertahlil, kemudian beliau melangkah kedepan bagian Ka’bah dan meletakkan dadanya, pipinya dan dua tangannya[48] (pada Ka’bah), lalu beliau keluar dan menghadap ke-arah kiblat sedang waktu itu beliau berada di pintu, lalu beliau bersabda : Ini adalah kiblat, ini adalah kiblat.”[49]
Hadits ke 20 :
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، لاَ تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ.
أخرجه أبو داود والنسائي، والترمذي وابن ماجه، وصححه الألباني
Dari Jubair bin Muth’im bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda : “Wahai Bani Abdi Manaf[50], janganlah kalian melarang seoranpun yang akan thawaf (mengelilingi tujuh kali) sekitar Ka’bah, dan seorang yang akan menunaikan shalat pada waktu malam atau siang.”[51]
Hadits ke 21 :
عَنِ ابْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ : أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يُزَاحِمُ عَلَى الرُّكْنَيْنِ، فَقُلْتُ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّكَ تُزَاحِمُ عَلَى الرُّكْنَيْنِ زِحَامًا مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُزَاحِمُ عَلَيْهِ. فَقَالَ : إِنْ أَفْعَلْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ مَسْحَهُمَا كَفَّارَةٌ لِلْخَطَايَا.
 وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : مَنْ طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ.
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ  : لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى، إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً، وَكُتِبَتْ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ.
أخرجه الترمذي ، وصححه الألباني
Dari Ibnu Ubaid bin Umair dari ayahnya : Bahwasanya Ibnu Umar berdesak-desakkan untuk mencapai dua rukun (Hajar Aswad dan Rukun Yamani), lalu aku bertanya : “Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar), engkau berdesak-desakkan saat penuh sesak agar dapat mencapai dua rukun, satu sikap yang tidak pernah seorangpun dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam  melakukannya ? kemudian ia menjawab : “jika aku melakukan hal ini aku tidak akan sakit, karena aku mendengar Rasulullah shallahualaihiwasallam  bersabda : “Sesungguhnya menyentuh keduanya akan menghapuskan dosa-dosa.”
Dan saya mendengar Nabi shallahualaihiwasallam bersabda : “Barangsiapa thawaf di Ka’bah tujuh kali dan menyempurnakannya (tidak lebih atau kurang), maka pahalanya adalah seperti membebaskan budak.”
Dan saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Tidakklah seseorang yang tawaf meletakkan salah satu kakinya, dan melangkahkan yang lainnya melainkan Allah akan hapus kesalahannya dengannya, dan dituliskan baginya kebaikan[52].”[53]
Hadits ke 22 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلاَ يَتَكَلَّمْ إِلاَّ خَيْرًا.
أخرجه الترمذي، وصححه الألباني
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Thawaf mengelilingi Ka’bah seperti shalat, hanya saja kalian (boleh) berbicara dalam thawaf, barangsiapa berkata tatkala thawaf hendaknya mengucapkan ucapan yang baik[54].”[55]
Hadits ke 23 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أي عبد الله بن عمر – مَا أَرَاكَ تَسْتَلِمُ إِلاَّ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ، قَالَ : إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ مَسْحَهُمَا يَحُطَّانِ الْخَطِيئَة. وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : مَنْ طَافَ سَبْعًا فَهُوَ كَعِدْلِ رَقَبَةٍ.
أخرجه النسائي، وصححه الألباني
Dari Abdullah bin Ubaid bin Umair bahwasanya seorang lelaki berkata : “Wahai Abu Abdurrahman (yaitu Ibnu Umar) aku tidak melihatmu menyentuh sesuatu kecuali dua rukun[56] ini”. Ibnu Umar menjawab : saya mendengar Rasulullahshallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Sesungguhnya mengusap keduanya akan menghapuskan dosa.”
Dan aku mendengar beliau shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Barangsiapa thawaf tujuh kali mengelilingi Ka’bah akan mendapatkan pahala seperti pahala membebaskan budak[57].”[58]
Hadits ke 24 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ. فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ.
أخرجه الترمذي  والنسائي وابن ماجه والإمام أحمد وصححه الألباني
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Hajar aswad turun dari surga, warnanya lebih putih dari warna susu , lalu dosa-dosa[59] manusia menjadikannya berwarna hitam.”[60]
Hadits ke 25 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قاَلَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيَأْتِيَنَّ هَذَا الْحَجَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا، وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ، يَشْهَدُ عَلَى مَنْ يَسْتَلِمُهُ بِحَقٍّ.
أخرجه ابن ماجه والإمام أحمد وصححه الألباني
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Akan datang hajar aswad pada hari kiamat mempunyai dua mata ia akan melihat dengannya[61], mempunyai lisan dengannya ia akan berbicara bersaksi terhadap orang-orang yang memegangnya dengan benar.”[62]
Hadits ke 26 :
عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَرَبِيٍّ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ ابْنَ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ اسْتِلاَمِ الْحَجَرِ فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ. قَالَ قُلْتُ : أَرَأَيْتَ إِنْ زُحِمْتُ، أَرَأَيْتَ إِنْ غُلِبْتُ؟
قَالَ : اجْعَلْ ( أَرَأَيْتَ ) بِالْيَمَنِ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ.
أخرجه البخاري
Dari az-Zubair bin Arabi, ia berkata : seseorang bertanya kepada Ibnu Umarradhiyallahuanhuma tentang memegang hajar aswad, lalu ia menjawab : saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   memegang dan menciumnya. Az-zubair melanjutkan kisahnya, aku bertanya : Apa pendapatmu jika aku berdesak-desakkan dan tidak mampu menyentuhnya ? Ibnu Umar menjawab : Buanglah pendapatmu[63] di negeri Yaman[64]?[65] saya melihat Rasulullahshallallahu alaihiwasallam memegangnya dan menciumnya.”[66]
Hadits ke 27 :
عَنْ نَافِعٍ قَالَ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَلِمُ الْحَجَرَ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَبَّلَ يَدَهُ، وَقَالَ : مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ.
أخرجه مسلم
Dari Nafi’, ia berkata : Saya melihat Ibnu Umar memegang hajar aswad dengan tangannya, lalu mencium tangannya[67], lalu berujar : Aku tidak meninggalkan amalan ini sejak aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  melakukannya.”[68]
Hadits ke 28 :
عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ، قَالَ : رَأَيْتُ عُمَرَ قَبَّلَ الْحَجَرَ وَالْتَزَمَهُ، وَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَ حَفِيًّا.
أخرجه مسلم وأبو داود وابن ماجه
Dari Suwaid bin Ghafalah, ia berkata : saya melihat Umar mencium hajar aswad dan ia senantiasa melakukannya, dan berujar : saya melihat Rasulullahshallallahu alaihi wasallam   menekuni[69] hal ini[70][71]
Hadits ke 29 :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا، قاَلَتْ : كُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَدْخُلَ الْبَيْتَ فَأُصَلِّيَ فِيهِ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَأَدْخَلَنِي الْحِجْر، وَقَالَ  :  صَلِّي فِي الْحِجْرِ إِذَا أَرَدْتِ دُخُولَ الْبَيْتِ، فَإِنَّمَا هُوَ قَطْعَةٌ مِنَ الْبَيْتِ، فَإِنَّ قَوْمَكِ اقْتَصَرُوا حِينَ بَنَوُا الْكَعْبَةَ، فَأَخْرَجُوهُ مِنَ الْبَيْتِ.
أخرجه أبو داود والترمذي، وقال : حسن صحيح
Dari Aisyah radhiyallahuanha, ia berkata : dahulu aku suka masuk ke-Ka’bah dan shalat di dalamnya, kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam   memegang tanganku dan membawaku ke-Hijir , dan berujar : Shalatlah di Hijir jika engkau ingin masuk Ka’bah, karena hijir ini adalah bagian dari Ka’bah, sesungguhnya kaummu memendekkan bangunan ketika membangun Ka’bah[72], dan mengeluarkannya dari Ka’bah.”[73]
Hadits ke 30 :
عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قاَلَ : رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ قَبَّلَ الْحَجَرَ وَسَجَدَ عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ خَالَكَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُقَبِّلُهُ وَيَسْجُدُ عَلَيْهِ، وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَبَّلَ وَسَجَدَ عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ هَكَذاَ، فَفَعَلْتُ.
أخرجه ابن خزيمة في صحيحه، وسنده صحيح
Dari Ja’far bin Abdillah, ia berkata : “Saya melihat Muhammad bin Abbad bin Ja’far mencium hajar aswad dan bersujud menghadap padanya, lalu ia berkata : saya melihat pamanmu Ibnu Abbas mencium dan bersujud menghadap padanya, dan Ibnu Abbas berkata : saya melihat Umar bin Khattab mencium dan bersujud menghadap padanya, lalu berkata : saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   melakukan hal ini, maka akupun melakukannya.”[74]
Ibnul Munzir berkata : “Para ulama bersepakat bahwa bersujud menghadap ke-arah hajar aswad diperbolehkan.”
Hadits ke 31 :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَلَ ثَلاَثَةَ أَطْوَافٍ مِنَ الْحَجَرِ إِلَى الْحَجَرِ، وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ عَادَ إِلَى الْحَجَرِ، ثُمَّ ذَهَبَ إِلَى زَمْزَمَ، فَشَرِبَ مِنْهَا وَصَبَّ عَلَى رَأْسِهِ، ثُمَّ رَجَعَ فَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الصَّفَا، فَقَالَ : ابْدَأْ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِه.
أخرجه أحمد وسنده صحيح
Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam   berlari-lari kecil thawaf tiga kali dari hajar aswad kembali ke-hajar aswad, dan shalat dua rakaat, lalu kembali lagi ke-hajar aswad, setelah itu menuju ke-sumur zamzam dan meminumnya lalu menuangkannya diatas kepalanya, kemudian beliau kembali dan memegang rukun (Hajar Aswad), lalu kembali ke-Sofaa, dan berujar : mulailah dari ajaran yang Allah perintahkan memulainya.”[75]
Hadits ke 32 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرُو رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ الرُّكْنَ وَالْمَقَامَ يَاقُوتَتَانِ مِنْ يَاقُوتِ الْجَنَّةِ، طَمَسَ اللَّهُ نُورَهُمَا، وَلَوْ لَمْ يَطْمِسْ نُورَهُمَا، لأَضَاءَتَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.
أخرجه الترمذي  وصححه الألباني
Dari Abdullah bin Amru radhiyallahuanhuma, ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Sesungguhnya rukun (hajar aswad), dan Maqam (Ibrahim) adalah dua buah jenis Yaqut dari jenis[76] Yaqut yang berada di Surga, Allah menghapus sinar keduanya, kalau tidak dihapus cahayanya tetulah keduanya akan menyinari antara timur dan barat.”[77]
Hadits ke 33 :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فُرِجَ سَقْفِي وَأَنَا بِمَكَّةَ، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَم فَفَرَجَ صَدْرِي، ثُمَّ غَسَلَهُ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ جَاءَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مُمْتَلِئٍ حِكْمَةً وَإِيمَانًا، فَأَفْرَغَهَا فِي صَدْرِي، ثُمَّ أَطْبَقَهُ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَعَرَجَ بِيْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ….. الحديث.
أخرجه البخاري كتاب الحج
Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu ia bercerita bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : atap rumahku terbuka sedang waktu itu aku di Makkah, lalu turunlah Jibril alaihissalam, kemudian ia membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air zamzam, lalu ia mengambil baskom yang terbuat dari emas penuh dengan hikmah dan iman, lalu ia menuangkannya dalam dadaku, setelah itu ia menutup kembali dadaku, kemudian ia memegang tanganku dan naik bersamaku ke-langit dunia …..”[78]
Hadits ke 35 :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ – في خبر إسلامه – قال : قال لي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَتىَ كُنْتَ هَاهُنَا؟
 قَالَ : قُلْتُ : قَدْ كُنْتُ هَاهُنَا مُنْذُ ثَلاَثِينَ – بَيْنَ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ _.
قَالَ : فَمَنْ كَانَ يُطْعِمُكَ ؟
قَالَ : قُلْتُ : مَا كَانَ لِي طَعَامٌ إِلاَّ مَاءُ زَمْزَمَ .
فَسَمِنْتُ حَتَّى تَكَسَّرَتْ عُكَنُ بَطْنِي وَمَا أَجِدُ عَلَى كَبِدِي سُخْفَةَ جُوعٍ.
قَالَ : إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ.
أخرجه المسلم
Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu – dalam kisahnya tatkala memeluk Islam – ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   berkata kepadaku : Kapan kamu di sini? Abu Dzar menjawab : saya berada di sini sejak tiga puluh hari yang lalu. Nabi shallallahu alaihi wasallam   bertanya lagi : siapa yang memberimu makan? Abu Dzar menjawab : Aku tidak mempunyai makanan kecuali hanya minum air zamzam, maka aku menjadi gemuk sampai-sampai perutku buncit (karena banyaknya lemak dan ada lipatan-lipatannya), dan aku tidak merasakan rasa lapar dan lemah.[79] Rasulullah menjawab : Sesungguhnya air zam-zam itu berbarakah, sesungguhnya ia adalah makanan yang penuh gizi.”[80]
Hadits ke 35 :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا : أَنَّهَا كَانَتْ تَحْمِلُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ وَتُخْبِرُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَحْمِلُهُ.
 أخرجه الترمذي وصححه الألباني
Dari Aisyah radhiyallahuanha : “Bahwasanya ia membawa air zamzam dan ia mengabarkan bahwasanya Rasulullah dahulu membawanya.”[81]
Hadits ke 36 :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُ مَاءٍ عَلىَ وَجْهِ اْلأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ، وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ.
أخرجه الطبراني في الكبير، وصححه الألباني
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zamzam, air itu mengenyangkan peminumnya sebagaimana makanan mengenyangkan orang yang makan[82], dan terdapat obat dari penyakit.”[83]
Hadits ke 37 :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
أخرجه البخاري ومسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Barangsiapa menunaikan haji dan tidak melakukan perbuatan rofats[84], dan tidak berbuat fasik[85], maka ia kembali seperti hari tatkala ia dilahirkan ibunya[86].[87]
Hadits ke 38 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.
أخرجه الترمذي والنسائي وابن ماجه، وصححه الألباني
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda : Iringilah[88] antara haji dan umrah, sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana alat peniup api (tukang besi) menghilangkan kerak besi, emas dan perak, dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur[89] kecuali surga.”[90]
Hadits ke 39 :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ.
أخرجه ابن ماجه، وحسنه الألباني
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu dari Nabi shallallahu alaihiwasallam , beliau bersabda : “Seorang yang berperang di jalan Allah, dan seorang yang menunaikan haji dan umrah adalah utusan Allah, Allah memanggil mereka dan mereka mendatanginya, dan mereka meminta kepada Allah, lalu Allah memberikan kepada mereka.”[91]
Hadits ke 40 :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الإسْلامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا كاَنَ، وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا.
أخرجه مسلم
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma dari Nabi shallallahu alaihiwasallam , beliau bersabda : “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana datang awal kali, dan Islam akan berkumpul diantara dua masjid (masjidil haram dan Masjid Nabawi)[92]sebagaimana ular berkumpul di lubangnya.”[93]


[1] Penjelasan hadits ini terdapat dalam kitab Fathul Baari  cetakan Darul Kutub Ilmiah, hal 504 juz ke 6 Kitab ahadits al-Anbiya bab 10, pen.
[2] HR Bukhari
[3] Gunung yang terletak di jalan antara Syam dan Madinah, dekat dengan Juhfah. (Keterangan ini terdapat dalam shahih muslim dengan Syarh/penjelasan Imam Nawawi cetakan Darul Fikr hal 228 -230,juz ke-2, jilid ke 1, pen)
[4] HR Muslim
[5] Dalam hadits ini terdapat keutamaan tiga masjid ini, dan keutamaan bepergian ke tiga masjid itu (untuk beribadah), karena makna hadits ini menurut Jumhur/mayoritas Ulama adalah tidak ada keutamaan bepergian mengunjungi selain bepergian ke-tiga masjid ini.  (Penjelasan hadits ini terdapat dalam shahih muslim dengan Syarh/penjelasan Imam Nawawi cetakan Darul Fikr hal 167 -168,juz ke-9, pen)
[6] HR Bukhari dan Muslim
[7] Maknanya : Pahala shalat di Masjid Nabawi lebih banyak seribu kali dari pahala shalat di selainnya. (Syarh shahih muslim oleh Imam Nawawi cetakan Darul Fikr hal 166 -167,juz ke-9 jilid ke 5, pen)
[8] Imam Nawawi berkata : Ketahuilah, keutamaan ini khusus pada masjid yang mana Nabi shallahu alaihi wasallam shalat ketika itu, bukan bangunan masjid tambahan yang dibangun sesudah beliau wafat, maka sepatutnya seorang yang shalat berusaha (shalat dibangunan awal) dan hendaknya ia memperhatikan akan hal ini (Syarh shahih muslim oleh Imam Nawawi cetakan Darul Fikr hal 166 -167,juz ke-9 jilid ke 5, pen)
[9] HR Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan al-Albani (dalam kitab Irwauul ghalil cetakan al-Maktab al-Islami hal 341 hadits no 1129 juz ke 4, pen)
[10] Hadits ini dalil bagi jumhur ulama bahwa Makkah adalah lebih utama dari Madinah. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami Tirmidzi, hal 327 juz 10 cetakan Daarul Fikr, pen)
[11] HR Tirmidzi dan ia menghasankan, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak dan ia menshahihkannya.
[12] Maknanya : Dengan perintah Allah. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 326 juz 10, pen)
[13] HR Tirmdizi dan ia menshahihkannya, dan Nasa’i dalam kitab Sunan “al-Kubro”, dan Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam kitab “al-Mustadrak” dan ia menshahihkannya.
[14] Fathul Bari jilid 12 hal 259-260, cetakan Daarul Kutub ilmiah th 1989 M – 1410 H, pen.
[15] HR Bukhari
[16] Makna hadits ini : Tidak ada lag hijrah dari Makkah, karena Makkah telah menjadi negeri Islam, namun hijrah dari negeri musuh ke negeri Islam tetap di syariatkan hingga hari kiamat. (Syarh Shahih Muslim, oleh Imam Nawawi hal 123 jilid ke 5 juz ke 9 cetakan Darul Fikr, pen)
[17] Maknanya : “Akan tetapi bagi kalian ada cara untuk mendapatkan pahala/keutamaan seperti hijrah, yaitu dengan berjihad dan mempunyai niatan baik dalam segala sesuatu. (Syarh Shahih Muslim, oleh Imam Nawawi hal 123 jilid ke 5 juz ke 9 cetakan Darul Fikr, pen)
[18] Yang dimaksud adalah ketika terjadi peristiwa penaklukkan Makkah. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 469 juz 3, pen)
[19] Makna hadits ini : Barang yang jatuh di Makkah tidak halal diambil bagi orang yang menemukan dan mencari pemiliknya selama setahun kemudian setelah tidak menemukan ia mengambilnya, sebagaimana hal ini (diperbolehkan) dilakukan di negeri selain Makkah. (Syarh Shahih Muslim hal 123-126, juz 9 jilid ke 5 cetakan Daarul fikr, pen).
[20] HR Bukhari dan Muslim
[21] Larangan ini jika tidak ada hajat kebutuhan membawa senjata, jika ada hajatnya maka diperbolehkan. (Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi, hal 130-131, juz 9 jilid ke 5 cetakan Daarul fikr, pen).
[22] HR Muslim
[23] Jalan di antara dua gunung . (Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi hal 71, juz 18 jilid 9 cetakan Daarul fikr, pen).
[24] HR Bukhari dan Muslim
[25] Maknanya : Sesudah Fathul Makkah (Penaklukkan kota Makkah). (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 186 juz 5, pen)
[26] HR Tirmidzi dan Ahmad, dan dishahihkan al-Albani.
[27] Al-Hudaibiyah : desa dekat dengan kota Makkah, sebagian besar daerahnya masuk wilayah Makkah. (Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, juz 5 hal 417, pen)
[28] Satu tempat dekat dengan kota Makkah, antara daerah Rabigh dan Juhfah. (Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, juz 5 hal 419, pen)
[29] Jalan di pegunungan menuju Hudaibiyyah (Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, juz 5 hal 419, pen)
[30] Kata-kata yang diucapkan kepada unta jika tiba-tiba berhenti berjalan. (Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H,  juz 5 hal 419, pen)
[31] Nama untanya Nabi shallallahu alaihiwasallam  (Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H,  juz 5 hal 419, pen)
[32] Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, jilid 5 hal 420, pen.
[33] Tidak berperang di Makkah (Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H,  jilid 5 hal 420, pen)
[34] HR Bukhari
[35] Keharaman syiar-syiar Allah. (Sunan Ibnu Majah dengan Syarh as-Sindi cetakan Daarul Ma’rifat th 1996 M-1416 H hal 519 jilid 3, pen)
[36] HR Ahmad, dan Ibnu Majah, hadits ini dihasankan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar.
[37] Imam Nawawi berkata : Hadits ini dalil bagi ulama yang berpendapat pengharaman kota Makkah adalah di zaman Ibrahim shallahu alaihi wasallam, namun yang benar adalah pengharamannya adalah sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi (sebagaimana hadits yang telah lalu). (Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi hal 134, juz 9 jilid 5 cetakan Daarul fikr, pen).
[38] HR Muslim
[39] Maknanya adalah perbanyaklah thawaf , haji, umrah dan i’tikaf serta terus menatapnya. (Penjelasan hadits ini terdapat dalam kitab Faidhul Qadir Sarhu al-Jami ash-Shaghir min al-Ahadits al-Basyir an-Nadhir karya al-Manawi, cetakan Daarul Kutub al-ilmiah th 1994 M-1415 H Hal 639 juz 1, pen.
[40] Pertama ketika diterpa angin topan lalu dibangun oleh Nabi Ibrahim, kedua ketika dihanyutkan banjir pada zaman Quraisy kemudian dibangun lagi, saat itu Nabi berumur 35 tahun. (Penjelasan hadits ini terdapat dalam kitab Faidhul Qadir Sarhu al-Jami ash-Shaghir min al-Ahadits al-Basyir an-Nadhir karya al-Manawi, cetakan Daarul Kutub al-ilmiah th 1994 M-1415 H Hal 639 juz 1, pen.)
[41] Dihilangkan tonggaknya. (Penjelasan hadits ini terdapat dalam kitab Faidhul Qadir Sarhu al-Jami ash-Shaghir min al-Ahadits al-Basyir an-Nadhir karya al-Manawi, cetakan Daarul Kutub al-ilmiah th 1994 M-1415 H Hal 639 juz 1, pen.)
[42] HR al-Bazzar, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban dan dishahihkan al-Albani.
[43] Perintah menghadap ke-arah timur dan barat ini adalah bagi penduduk Madinah dan yang searah dengan mereka, yang mana jika mereka mengarahkan ke-arah timur atau barat, tidak menghadap ke-Kiblat dan tidak pula membelakanginya. (Taisir Alam Syarhu Umdatul Ahkam, jilid 1 hal 51, karya Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih al-Bassam cetakan Maktabah Darussalam dan Maktabah Daarulfiiha, th 1994 m – 1414 H, pen)
[44] HR Bukhari dan Muslim
[45] HR Thabrani dalam kitab al-Ausath dan dishahihkan al-Albani
[46] Kitab Aunul Ma’bud Syarh sunan Abu Daud cetakan Daarul kutub ilmiah hal 216  juz 10 jilid ke 5 (pen).
[47] HR Abu Daud, dan Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani (dalam silsilah no 222 hal 437, pen)
[48] Hadits ini menunjukkan disunnahkannya menempelkan pipi dan dada pada Ka’bah yaitu bagian antara rukun dan pintu, yang dinamakan multazam. (Nailul Authar Syarhu Muntaqo Ahbar hal 157 juz ke 5 jilid 3,  cetakan Daarul Fikr 1994 M-1414 H, pen)
[49] HR Nasai dan dishahihkan al-Albani
[50] Rasulullah mengkhususkan sabdanya ini kepada Bani Abdi Manaf karena beliau mengetahui bahwa pemerintahan dan kekuasaan di Makkah kembali pada mereka, karena mereka adalah pemimpin-pemimpin Makkah, dan urusan-urusan dalam haji (menjamu jamaah haji dengan memberikan minum, makanan, pengamanan) mereka yang melakukannya. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 531 juz 3, pen)
[51] HR Abu Daud dan Nasa’i, dan Tirmidzi dan Ibnu Majah dan di shahihkan al-Albani
[52] Penjelasan ini terdapat dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 632 juz 3, pen.
[53] HR Tirmidzi, dan dishahihkan al-Albani
[54] perkataan yang baik seperti berzikir kepada Allah mengajarkan ilmu atau mempelajarinya dengan tidak mengganggu orang-orang yang tawaf. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 633 juz 3, pen.
[55] HR Tirmidzi, dan dishahihkan al-Albani
[56] Yaitu Hajar Aswad dan Rukun Yamani. (Penjelasan ini terdapat dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 631 juz 3, hadits no 959 pen.)
[57] Sunan Nasai dengan Syarh Suyuthi dan catatan kaki oleh as-Sindi hal 243 juz 5 cetakan Daarul Ma’rifah1994 H-1414 M, pen.
[58] HR Nasai dan dishahihkan al-Albani
[59] Dosa-dosa manusia yang menyentuh hajar aswad penyebab hajar aswad berwarna hitam. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 541 juz 3, pen.
[60] HR Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani.
[61] Hajar Aswad akan mengetahui siapa saja yang telah menyentuhnya. (penjelasan ini dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hadits no 961 hal 643 juz 3, pen).
[62] HR Ibnu Majah, dan Imam Ahmad dan dishahihkan al-Albani
[63] Dalam riwayat lain : Buanglah pendapatmu di bintang-bintang. (Penjelasan ini dalam Fathul Bari hal 607 cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H,  juz 3 Kitabul Hajji, bab Takbilul hajar, pen)
[64] Ibnu Umar menduga laki-laki ini berasal dari Yaman. (Penjelasan ini dalam Fathul Bari hal 607 cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H,  juz 3 Kitabul Hajji, bab Takbilul hajar, pen)
[65] Ibnu Umar menjawab dengan jawaban ini, karena ia memahami bahwa penanya menentang hadits nabi dengan akal, maka ia pun mengingkarinya dan ia memerintahkan kepada penanya jika mendengar hadits hendaklah diamalkan dan hendaknya menjauhi pendapat. (Lihat Fathul Bari cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H hal 607 juz 3 Kitabul Hajji, bab Takbilul hajar, pen)
[66] HR Bukhari
[67] Imam Nawawi berkata : Hadits ini dalil disunnahkannya mencium tangan sesudah menyentuh hajar aswad jika tidak mampu menciumnya. (Penjelasan ini dalam Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi cetakan Daarul Fikr juz 9 jilid 5 hal 15, pen)
[68] HR Muslim
[69] Menekuni dalam mencium dan mengusapnya, perkataan Umar ini sekalipun ditujukan kepada batu hajar aswad maksudnya adalah memperdengarkan perkataannya kepada manusia agar mereka mengetahui bahwa tujuan mencium batu hajar aswad ini adalah dalam rangka mengikuti sunnah Rasulullah dan bukan berarti pengagungan terhadap batu hajar aswad sebagaimana hal ini biasa dilakukan kaum paganis/penyembah berhala, karena yang dituntut dalam sunnah ini adalah mengagungkan perintah Allah dan mengikuti Nabi-Nyashallallahu alaihi wasallam. (Penjelasan hadits ini dalam kitab Sunan Nasai dengan syarh as-Suyuthi dengan catatan kaki oleh as-Sindi cetakan Daarul Ma’rifah th 1994 M-1414 H, hal 250 juz ke-5, pen).
[70] Penjelasan hadits ini dalam Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi cetakan Daarul Fikr juz 9 jilid 5 hal 17( pen)
[71] HR Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah
[72] Tidak menyempurnakan dalam membangun Ka’bah karena kurangnya biaya. (lihat Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hadits no 876 hal 540 juz 3, pen).
[73] HR Abu Daud, dan Tirmidzi dan ia berkata hadits ini hasan shahih.
[74] HR Ibnu Huzaimah dalam shahihnya, dan sanadnya shahih
[75] HR Ahmad dan Sanadnya shahih
[76] Penjelasan hadis ini terdapat dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hadits no 878 hal 543 juz 3, pen.
[77] HR Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani
[78] HR Bukhari. (penjelasan hal ini terdapat dalam kitab Faathul Bari cetakan Daarul Kutub ilmiah hal 605-606 juz 1, pen.)
[79] Penjelasan ini dalam kitab Syarh Shahih Muslim cetakan Daarul Fikr hal 30 juz 16 dalam hadits tentang keutamaan Abu Dzar, pen.
[80] HR Muslim
[81] HR Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani
[82] Lihat Syarh Shahih Muslim cetakan Daarul fikr hal 30 juz 16 dalam hadits tentang keutamaan Abu Dzar, pen.
[83] HR Thabrani dalam kitab “al-Kabiir” dan dishahihkan oleh al-Albani dalam silsilah hadits no 3585
[84] Rofats adalah jima’ (bersetubuh), dan hal-hal yang menjurus pada jima, dan juga ucapan yang keji. (Fathul Bari cetakan Daarul Kutub ilmiah hal 487-488 juz 3, pen)
[85] Tidak melakukan kejahatan atau maksiat. (Faathul Bari cetakan Daarul Kutub ilmiah hal 487-488 juz 3, pen)
[86] Maknanya adalah tanpa dosa.  (Penjelasan ini dalam kitab Syarh Shahih Muslim cetakan Daarul fikr hal 119 juz 9 jilid ke 5, pen.)
[87] HR Bukhari dan Muslim
[88] At-Thibi rahimahullah berkata : makna hadits ini adalah jika engkau umrah maka lakukanlah haji juga, jika engkau haji lakukanlah umrah juga. (Penjelasan ini dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 470 hadits no 810 juz 3, pen)
[89] Para ulama ada yang mengartikan haji mabrur adalah haji yang diterima, adapun yang lainnya mengatakan haji yang tidak tercampur dengan dosa. Dan ringkasnya arti dari haji mabrur adalah haji yang hukum/tata caranya benar-benar dilaksanakan, dan ditunaikan dengan cara yang paling sempurna (sesuai al-Qur’an dan Sunnah) sebagaimana hal ini dituntut bagi orang yang menunaikannya. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 470-471 hadits no 810 juz 3, pen)
[90] HR Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah dan di shahihkan al-Albani
[91] HR Ibnu Majah dan dihasankan oleh syaikh al-Albani
[92] Penjelasan ini dalam kitab Syarh Shahih Muslim cetakan Daarul Fikr hal 177 jilid 1 juz 2, pen.
[93] HR Muslim